Showing posts with label BN. Show all posts
Showing posts with label BN. Show all posts

Tuesday, 22 December 2009

Flavour Of The Year;'No Cover Up And NFA'

MISSING AIRCRAFT ENGINE, NO COVER UP, SAYS NAJIB
PUTRAJAYA, Dec 21 (Bernama) -- The government has no intention to cover up the case of the missing aircraft engine belonging to the Royal Malaysian Air Force (RMAF), Datuk Seri Najib Tun Razak said today.

The prime minister said that a police report was lodged when the Defence Ministry realised the incident which happened during his time as minister in charge.

"In fact we went forward to the police. At that time I was the minister in charge. I decided we should report it to the police," he told reporters after chairing the Malaysian Aerospace Council meeting here.

Najib was commenting on the case of the missing RMAF F-5E fighter jet engine in 2007, which was sold to an international company based in South Africa.

On the brigadier-general who was sacked but who retained his pension, Najib said it depended on what he had done wrong and it was up to the Air Force and the Armed Forces to decide on that.

"We wait until the full report comes out because we have cooperated with the police," he said.

-- BERNAMA

It took two years for this case to come to public attention. This shows that there is cover up.

Why that long?

It was a cover up for the last one year.The timing of this announcement is to give you ample time to settle down and prepare excuses.

Things are happening in quick succession. This and many other cases are sufficient to convince the people that serious reforms are urgently required.

Voters,Please open your eyes! The goverment that you had voted in 2008 is abusing tax payers money every where. Do you still want them to govern our country in the next election.

UMNO members..Do you understand what is happening?




Monday, 21 December 2009

Keramat Bangsa




Ini lah tanda-tanda awal sesebuah parti politik mau pun korporat berada diambang kejatuhan. Kalau tanda-tanda begini tidak dirawat segera, alamat organisasi itu akan lumpuh dan menemui maut.


Setakat entri ini ditulis BN dan PR memang menghadapi berbagai-bagai kerenah dalaman. Manusia yang dari PR lari masuk BN dan manusia dari BN yang lari masuk PR sememangnya mereka itu mayat-mayat yang bernyawa.


Mereka ini bukan pejuang. Mereka adalah pemalas no wahid di 1Malaysia. Suka lari dari masalah. Jenis tidak boleh menerima kenyataan. Otak singkat. Mudah mati akal.


Sebaliknya kalau Wakil Rakyat dari PR lari masuk BN kerana terlanjur melakukan rasuah atau salahguna kuasa itu petanda baik bagi PR. Kerana monyet-monyet ini mencemarkan wajah dan keayuan sesebuah parti.


Bagi BN amat malang sekali kalau asyik menerima monyet-monyet seperti ini. Kalau adegan ini berterusan BN akan dibanjiri monyet-monyet yang baru lompat untuk bersama-sama monyet-monyet yang sedia ada mengkhianati rakyat dan berselindung di balik keramat bangsa.


Wednesday, 28 October 2009

YB BN & YB PR

Alaun Jalan. Tak kisahlah..Apa nak jadi jadilah..Kalau tak bayar nanti kelaparan pula anak bini dan bini-bini YB dan gundik-gundik YB-YB dan Babi-babi YB dan lagi dan lagi....

YB bersidang ada hasil ke..tak ada hasil ke..Alaun mesti jalan.

RAKYAT???..mesti bayar cukai pendapatan! Tak bayar akan dakwa dan didenda..

Rakyat yang cari makan atas jalanraya dan lebuhraya hari-hari kena saman. 1 lori 4 agensi kerajaan menyaman dalam 1 hari di 1Malaysia...Pertama Polis trafik. Lepas polis trafik, JPJ pula..Lepas JPJ Alam Sekitar pula..Lepas Alam sekitar,Puspakom pula. Wang Malaysia inilah untuk bayar alawun YB-YB berkenaan.

Kumpulkan wang hasil dari KERINGAT, DARAH DAN AIR MATA RAKYAT...uNTUK DIBAYAR KEPADA YB-YB yang bersidang dan bergaduh setiap hari...

Sabda Rasulullah:
"Sesungguhnya dunia itu indah dan menawan hati, dan bahawasanya Allah Ta'ala menjadikan kamu sebagai orang-orang yang mewarisinya, Maka Dia sentiasa memerhatikan apa yang kamu lakukan"

Monday, 21 September 2009

Pedoman Aidilfitri

E-mail kawanku. Kenapa dia hantar buanasuara tak tahu. Apa pun niatnya wallahualam..mari kita berhibur sambil cari-cari moral disebaliknya..
~Amat baik juga dibaca oleh Putera UMNO dan Pemuda UMNO.
~PR yang baru setahun jagung pun patut juga ambil iktibar dari cerita Si Jalak ni. UMNO dah 50 tahun lebih usianya...macam-macam 'trick' ada.

Cerita Ayam Yang Macho

Ceritanya berkisar di sebuah ladang penternakan ayam yang terletak di Gunung Semanggul.tentang sebuah peternakan ayam. Disana ada 5 Ayam betina dan seekor ayam jalak (kira ayam jantan macholah) yang umurnya sudah lanjut dimamah masa (cewah-cewah cam lam novel percintaan lak).

Karena merasa bahwa ayam jalak yang sudah tua tadi sudah melewati masa suburnya, si pemilik ladang tersebut memutuskan untuk membeli seekor ayam jalak lagi yang masih muda, tampan, segak, macho dan yang sewaktu nganya.

Dengan secara tidak sengaja hal ini membuatkan si ayam jalak tua menjadi merasa tersaing. Lalu bibit2 cemburu dan hasat dengki menguasai dirinya, mulalah diyer mengatur srategi. Lalu terjadi percakapan seperti ini :

Si ayam jalak tua : Eh, kamu jangan serakah sgt kat sini. Ayam betinanya
kan ada 25. Kamu boleh ambil yang 15, bakinya bagi aku.

Si ayam jalak muda: Banyak hensem ko punya muka, tua tak sedarkan diri.
Hang tu dah tua dah tak larat dah so semua untuk aku sahaja.

Si ayam jalak tua : Eh a...berlagak tul mamat seekor ni (jalak tua bercakaplamati yer). Seper kata aku tua tak larat lagi, ko jgn pandang rendah pada aku, kang aku sekeh kang... O.klah, aku maleh nak gaduh ngan budak hingusan cam ko ni (jalak tua, menunjukkan eksen nyer) so apa kata kalau kita pertontonkan kemanchoan kita ngan mengadakan satu pertandingan. Siapa yang menang boleh ambil semua ayam betina yang ada kat sini ayam ini. Yang kalah kirim salam.

Si ayam jalak muda: Aku.. aku boleh sahaja, pantang dicabar ni. Kita nak buat pertandingan apa ni... cabut bulu ayam ker (jalak muda membuat lawak loya beruk yer)

Si ayam jalak tua : Dak'ah! Senang jer pertandingan lumba lari.

Sambil tersenyum kambing, Si ayam jalak muda: Set

Si ayam jalak tua : Lumbanya 400M. tapi karena aku sudah tua, aku minta ! untuk lari dulu di depanmu 50 meter.

Si ayam jalak muda: Boleh (dengan penuh keyakinan).

Maka pertandingan pun dimulai. Ayam jalak tua lari dulu 50 meter baru ayam jalak yang muda lari menyusul dengan kecepatan kuasa extra gaban yang mengkagumkan. Eh, baru kurang 1 meter menyusul, si ayam jalak muda ditembak langsung oleh pemilik peternakan.

Kata Pemilik : "Kurang ajar. INI AYAM JALAK-HOMOS**KS NI. Asal setiap aku beli dapat yang macam ni SUKA SANGAT KEJAR-KEJAR AYAM JALAK TUA AKU"


NiLAI MORAL : Jgn berlagak ngan org tua (depa banyak trick yer,)
HORMATILAH ORANG YANG LEBIH TUA DARI KITA...

Tuesday, 11 August 2009

Suara Seorang Negarawan




razaleigh.com
Tengku Razaleigh’s official weblog
Race: Time for a new beginning

Thank you for inviting me to speak at this event.
Distance, home and reflection



1) The opportunity to study abroad is gift. I remember my days as a student in Belfast so long ago. Now as then, overseas study gives us the chance to be educated at some of the finest, best established institutions of higher learning anywhere, and to be exposed to the best that has been thought and done, and to measure ourselves against the highest standards. It is an opportunity to see the world.



2) Travel and living abroad takes us far away from home, but in doing so it also brings us closer to ourselves, and closer to home. Have you experienced this? Have you felt time and distance making you more conscious of how unique and precious the places, relationships, colours, smells and yes, tastes, of home are? Distance can help us see things more clearly. Home is such an immediate, dense and total experience that we often need to go away to see its contours. Home is such an emotional experience that we often understand it better in the coolness of distance. We sometimes need the elevation of distance to see the map of our own country.



3) I want to use this privileged distance that we now share, here in Melbourne, to speak frankly with you today about a matter that is usually so tightly wound up, so emotional, that at a national level we have not been able to have a rational discussion about it.



4) I want to invite you to look across this distance at the map of the life in common that we call our country. I want to look across the distance of fifty two years of independence, across changes over my own lifetime, to understand where we have come from as a nation and where we are going. My topic is race and racial consciousness in Malaysian life, and especially in our politics.
Race in the political life of Malaysia



5) Our social and political life is racialised to a degree seen in few other countries in the world. There are historical reasons for this. Malaysia was, at its birth, a country deeply divided along communal lines. We negotiated and attained independence with a power-sharing arrangement between the leaders of the three major racial communities as represented by the Alliance coalition. The agreement and cooperation of these leaders ensured peace and stability while we modernised our economy. The skill and integrity of these leaders, and their clear authority among their own communities was key to the success of this model, which is sometimes described by political scientists as consociational democracy.



6) This arrangement lasted only twelve years. After the traumatic riots of May 1969, we underwent a period of rule under the National Operations Council before Parliament was restored. The New Economic Policy was drafted and put into action. A new coalition, the Barisan Nasional, was put together to ensure that every community had a place at the table. Once more, the idea was to resolve conflict within a consociational power-sharing arrangement. Each community was to have a place at the table. Conflicts were to be solved between the leaders of these communities, behind closed doors. This arrangement was useful and effective for its time, but we have to wake up to the fact that it no longer works.



It is important to understand why:



7) It was never meant to be a permanent solution. Our method of racial power-sharing is primarily a system for resolving conflict in a deeply divided society. It was designed as an interim work-around, an early stage on the way to “a more perfect union” and not as the desired end-state. Over the years, however, we have put up barricades around our system as if it were a fore-ordained and permanent ideal. In doing so, we have turned a half-way house into our destination, as if we must forever remain a racially divided and racially governed society.



8.) Instead, our ideal must be to become a free and united society in which individuals can express their ethnic and religious identities without being imprisoned in them. We must aim for a society in which public reasoning and not backroom dealing determines our collective decisions.



9) The power-sharing model that we started life with is an elite style of government justified by the virtue and competence of natural leaders of their communities. It needs special conditions. It does not work when political parties are led by the ignorant and the corrupt who have no standing in the communities they claim to represent.



10) It needs genuine agreement and cooperation between leaders who command support in their own communities and are universally respected. It will not work if the power-sharing coalition is overly dominated by one person and the others are there as token representatives. Our founding fathers negotiated, cooperated and shared responsibility as equals and as friends within a power-sharing framework. The communal interests they represented were articulated within the overarching vision of a united Malaysia. In the intervening years, as power came to be concentrated in the Executive, we preserved only the outward appearance of power-sharing. In reality we have had top-down rule and power has become increasingly unaccountable. Each of our political parties has also become more top-down, ruled by eternal incumbents who protect their position with elaborate restrictions on contests. Umno itself has become beholden to the Executive.



11) Our decades under highly-centralised government undermined our power-sharing formula, just as it undermined key institutions such as the judiciary, the police and the rule of law. Our major institutions have survived in appearance while their substance has eroded. Seen in this light, the election results of March 8, which saw the Barisan Nasional handed its worst defeat since 1969, was just the beginning of the collapse of a structure which has long been hollowed out.



The end of the old, but not quite the new



12) The racial power-sharing model now practiced by Barisan is broken. It takes more honesty than we are used to in public life to observe that this is not a temporary but a terminal crisis. An old order is ending. Our problem is that while this past winds down, smoothly or otherwise, the future is not yet here. We are caught in between. Despite our having become a more economically advanced society, with many opportunities for our citizens to express richly plural identities, our races have become increasingly polarised. Large numbers of our electorate still vote along ethnic and religious lines. Much of our political ground is still racially demarcated. Although we have made some progress towards truly multiracial politics, both the Government and the Opposition are largely mobilised along racial lines. It is not yet time to herald a new dawn. Instead, we are in a transition full of perils and possibilities.



13) You are this generation caught between. You are the generation of transition. You will play a key role in determining its outcome. However well a certain kind of politics of racial identity may have served to reduce conflict in the past, it has come to the end of its useful life. We need a new beginning to racial relations in Malaysia, and you must pioneer that beginning. We need to re-design race relations in Malaysia, and you must be the architects and builders of that design.



14) In coming to that new design I hope you take advantage of the perspective of distance that your overseas education has given you to not take as your starting point the tired answers that are passed on as conventional wisdom. You must reformulate the questions and come up with your own answers. When it is clear that one generation may have run out of steam, it is time to generate your own.


Where do you begin?


May I suggest some perspectives and principles. Whatever the answers we come up with, I think the following elements are important:



a) Begin with our common humanity. Respect our common humanity must override all lesser affiliations, including race. One of Islam’s most powerful contributions to human civilisation has been its insistence on the equality of all human beings. Islam tolerates no notions of racial superiority or inferiority. All human beings are equal before God. That same principle of equality is absolutely fundamental to democracy, and democracy is a foundational principle of our Constitution. Democracy is part of what makes us who we are as a nation. Even if we might still gravitate towards racial groupings, our allegiance to these groups must never overshadow our allegiance to the Constitution, and to the claims of equal dignity that it establishes firmly and permanently. Political parties based on race or religion must never be allowed to do or say anything contrary to justice and equality.



b) We must anchor ourselves in the Constitution and restore its primacy. This founding document of our country establishes definitively the equality of citizenship that is the bedrock of democracy. It gives us the framework of law and order within which we become a nation. It establishes the primacy of the rule of law, the sovereignty of Parliament, the independence of the judiciary and civil service and of our law enforcement agencies. These are the institutions which guarantee the freedom and sovereignty of the people.



c) We should acknowledge that while race is a category that unites people in common feeling, it can also divide, and divide disastrously. While it unites people who possess a set of social markers it often divides the same people from other communities. We should appreciate not just the fact that we are diverse but diverse in different ways. What I mean by this is that we are not diverse in the sense of being merely Malay, a Chinese, an Indian, a Kadazan, Iban and so forth. Each of us inhabits these particular identities in different ways. Each of us is not just a member of a race. There are other classifications which matter to us, such as location, class, social status, occupation, language, politics and others. 

We would be terribly impoverished as persons if our identity was given ahead of time and once and for all merely by our membership of a fixed racial category. I would be a very dull person if you could tell who I was simply by looking up my race. We would never have unity if that is primarily how we regard one another. If you reflect on yourselves, you might find that all kinds of identity matter to you: that you are a graduate of such and such a university, that you speak these languages, support this football team, enjoy certain food or music, love to travel, can write computer code, have read such and such books, and have so-and-so as friends. Just reflect on how you identify yourselves in your facebook profiles. Is race the only thing you regard as important about yourselves? Is it the most important thing?



To expect our politics to be given by our race is to make cardboard images of ourselves, it is to retard our growth as individuals and hence as a society. Similarly to see no more of others than their race is to turn them into stereotypes and maintain a view of the world bordering on racist. I want to urge you, as the makers of the new social landscape we need in Malaysia, to reject taking race to be a unique and fixed categorisation, to reject race as a central category of social and political life.



i) Race is a constructed category, in the sense that people shape what they count as a “race” according to time, place and purpose. There is no unique and rigid concept of it the way there is a rigid concept of buoyancy, double-entry book-keeping, equilateral triangles and photosynthesis. I would be offended if you tried to measure and determine my racial identity, and it would tell me that there was something deeply wrong with your worldview. I am not Malay in the sense in which water is H2O.



ii) Race is merely one among many identities we take up in life. We may not have much choice over how others categorise us, but we certainly have a choice about the relative importance to place on our own and therefore on the others’ racial identity. We have a choice in how much weight we put on it, and in how high in our scheme of values we put it. The contrast I want to draw is between the view that makes race out to be a unique and fundamental category, and a view that sees race as one out of many kinds of identification we could prioritise. If we see race as a watertight category, then you are either of race X or not, and everything else: your habits, thought-patterns, loyalties and politics must all follow from that. Then race becomes destiny. The politics of this kind of conception of race will always divide, and the ultimate solution to intra-racial problems it leads us to is, in the end, violence. It is easy to identify the practitioners of this kind of racial politics. They will rely on veiled threats of communal violence even as they take part in democratic politics. 

However, if we understand that racial identity is just one of many identities we have to balance, then it becomes our duty as thinking persons to set relative priorities on all these identifications. We need to ask ourselves whether we want to draw our moral values and perspective from our common humanity or from our racial identity. As educated, reasoning people, we cannot but find our common humanity the more fundamental value. We cannot but find rationally chosen universal values more important than inherited tribal affiliations.



iii) The ability to root ourselves in our common humanity first and foremost is the prerequisite for the development of a democratic society in which policies are decided by public reasoning rather than determined by violence and manipulation. This is because open public reasoning can only be carried out where there is equal respect for the dignity and rights of all citizens, and such respect must be firmly rooted in an understanding that despite sometimes clashing interests and identities, we are united by a more fundamental common identity: that of a shared humanity created by God. Our common humanity gives us moral obligations to one another, regardless of our lesser affiliations in a way that racial identity does not.




d) We need to arrive at new ways of mediating conflicting claims between the races, new ways of bringing people to the table, of including everyone in the decisionmaking process.



e) These new ways must be based on more open conceptions of who we are. Malaysia’s major races have lived together not just for decades but for centuries. Their cultures have interacted for millenia. In that time there has been mutual influence, admixture and cross-pollination at a depth and on a scale that our politics, popular culture and educational curriculum has largely pretended does not exist. 

In my own parliamentary constituency, jungle covered, far inland and one of the most remote in the peninsula (it used to be known as Ulu Kelantan and covered half the state, and when I started there I had to travel to it by boat), is a six hundred year old Chinese community, perhaps the oldest in the peninsula, living in peace with their Malay and Orang Asli neighbours. Why pretend that we do not owe so much to each other that we would not be ourselves without each other? At the level at which people actually live we are already inextricably linked to each other. 

It is time to embrace this real diversity in our political and personal lives. Our racial identities are not silos in a cornfield, forever separate, encased in steel, but trees in our rainforest: standing distinct but inexplicable without each other and constantly co-evolving.



16) While giving room to whoever wants to organise and advocate political interests according to our ethnic and religious affinities, we must now, very firmly, assert that such affinities must always recognise the priority and primacy of our common citizenship, our equal dignity, and above all, our common humanity before each other and before God. First we are human beings who are open to one another.



17) My young friends, I am not recommending anything novel. These are cardinal principle of our Constitution and the faiths we profess, most especially of Islam, and of reason itself. Let us have the sense of perspective to see our ethnic identities against these cornerstone principles of religion and ethics, and let us now educate our young, apprentice our youth, and conduct ourselves according to these principles. And then let us have a new beginning for Malaysia.

Tengku Razaleigh Hamzah
Sunday, 9 August 2009 – Prince Phillip Lecture Theatre, Melbourne University
Seminar Pembangunan InsanKelab Umno Melbourne

Monday, 10 August 2009

Model ISA PR

Lidah Berbelit

“Ianya merupakan persetujuan yang dibuat antara Parti Komunis China dengan rakyat: Kami akan membenarkan kalian menjadi kaya, tetapi kalian harus menyerahkan sepenuhnya kebebasan politik kalian." Zhou Qing.


Zhou, seorang penulis berusia 25 tahun, berperanan menyelaraskan protes-protes di Dataran Bandar Baru Xi’an. Kemudiannya beliau ditahan .


Zhou dipenjarakan selama dua tahun di penjara Xi’an. Beliau ditempatkan bekerja di sebuah kilang dan dikehendaki menghasilkan 12,000 batang mancis sehari. Seandainya gagal untuk mencapai kuota yang dikehendaki, maka makanan akan disekat.

Para pengawal lazimnya memilih di kalangan banduan untuk proses “vaksinasi”, salah satu kaedah intimidasi yang mana tahanan akan disuntik dengan serangga ke dalam torehan kulit pada lengan, mengakibatkan jangkitan secara perlahan dan senyap.

Sebagai hukuman kerana cuba melarikan diri, Zhou dipindahkan ke kem buruh, di mana beliau ditempatkan selama lapan bulan bersama-sama dengan tahanan-tahanan politik berusia 17 dan 18 tahun. Sewaktu masa makan, tahanan-tahanan tua akan membuli para mahasiswa dan merampas makanan mereka.


Friday, 24 July 2009

Millenium Bug Y2K In UMNO

Former Deputy Prime Minister, MUSA HITAM

"The younger people who are within (political parties) starts out very clever, very intelligent, in term of being critical, but they get absorbed into the sistem. They get absorbed too much, too fast and they can see how the game is played -how to be 'in' - and they get lost in there"
Former Malaysian Prime Minister, MAHATIR MOHAMAD
"If you want to develop a developing country, you need a real sense of direction...if you are going in ten seperate ways, nine of them would be wrong"


What say You?....For a successful 1Malaysia..







Monday, 20 July 2009

Muhyidin Dan Ghani Othman "Tong Kosong"


UTUSAN MALAYSIA.ISNIN 20 JULAI 2009
Muhyidin Yasin;
‘Tidak pegang prinsip MCA”

Ghani Othman;
‘Keputusan bekas Ketua MCA bahagian Bakri, Datuk Chua Ju Meng menyertai Parti
Keadilan Rakyat(PKR) tidak akan membangkitkan gelombang sokongan rakyat terhadap pakatan pembangkang di negeri ini”
“Tindakan itu tidak akan memberi kesan besar kepada scenario politik dinegeri ini”

Aku;BuanaSuara:

1.Inilah contoh penyakit kelamin pemimpin-pemimpin BN. Kalau ada seseorang kerabat yang keluar dan menyertai parti lain suka sangat merendah-rendahkan pilihan seseorang itu.

2.Jiwa AMBIL MUDAH. Tidak ada apa-apa. Semua beres.

2. Sepatutnya pemimpin yang bertanggungjawab memeriksa dan menyiasat dahulu kenapa seseorang itu lari dari perjuangan yang telah disertai puluhan tahun.

3.Jangan lekas membuat hukuman. Jangan ikut perangai PAS. Keluar sahaja seseorang itu dari parti mereka, terus dianggap sesat dan dihukum sebagai Ahli Neraka.

4.Dari segi prinsip mungkin seseorang itu tidak mendapat keadilan dari parti yang disertainya. Sebagai orang yang waras adalah satu kebodohan untuk kekal dalam parti yang gagal memberi keadilan kepada beliau dan kaumnya.

5. Mari kita lihat dari perspektif yang luas. Chua Ju Meng adalah bekas Menteri Kesihatan. Tidakkah terbayang dalam benak pemimpin bahawa yang keluar MCA itu bukan Ju Meng sebatang kara sahaja. Mungkin ramai lagi di Bahagian beliau. Dan mungkin ramai lagi diseluruh tanah airku 1Malaysia.

6.Apabila Ju Meng keluar parti dan menyertai gagasan lain ini bermakna beliau bukan sahaja tidak selesa dengan MCA tetapi mungkin sudah menyampah dengan BN atau mugkin menyampah dengan kerenah pemimpin UMNO yang menjadi tulang belakang BN.

7.Muhyidin bukan musuh Ju Meng. Muhyidin dan Ju Meng sama Johorean. Apa salahnya kalau Muhyidin bertanya khabar atas sifat kawan dan juga Timbalan Perdana Menteri Dan juga Timbalan Pengerusi Barisan Nasional Dan juga pemimpin 1Malaysia.

8.Kalau begini gelagatnya, Muhyidin boleh diumpamakan sebagai sebuah “tong kosong yang menerima apa sahaja yang dituangkan kedalamnya”.

9.Memandang sesuatu perkara dengan perasaan remeh temeh adalah symptom gejala buruk melanda pemimpin BN. Ini terjadi kerana pertimbangan dalam melakukan atau menerima sesuatu bukan atas dasar baik buruk atau benar-salah sesuatu perkara itu tetapi lebih berasaskan kepada nafsu-serakah dan keuntungan singkat semata-mata.
Nota:

Selagi para pemimpin BN dan UMNO khususnya, tidak menukar corak pemikiran, sikap dan jiwa mereka ke arah kebebasan sebenarnya, merdeka dari segi bentuk pandangan-pandangan palsu, yang sesat lagi menyesatkan, dan fikiran-fikiran yang kolot lagi membahlolkan, UMNO dan BN akan menjadi sebuah parti pinggiran pada pilihanraya akan datang.

Saturday, 18 July 2009

Anwar,Lim And Son, Azizan; Bagaikan Si Kudung Dapat Cincin


Rakyat harus sudah boleh menilai kerenah Pemimpin-pemimpin PR. Sepanjang pemerintahan sejak PRU 12 lalu tidak ada perkembangan positif yang diterapkan kecuali berpolitik siang dan malam.

Itulah sebabnya apabila berlangsungnya Pilihanraya, kecil atau umum rakyat wajib meneliti dan mengkaji baik buruknya seseorang calon atau sesebuah parti itu untuk dipilih. Jangan syok pada parti semata-mata.

Setakat ini kita dapat menyaksikan politik celaru Kerajaan Negeri Perak sehingga wujud Sidang Bawah Pokok dan sebagainya. Kanak-kanak tadika pun tertawa. Macam iklan sidang parlimen dalam kempen susu di TV satu waktu dahulu.

Gantung-mengantung Ahli Dewan berleluasa disana sini dalam negeri-negeri yang diperintah PR. Akhir-akhir ini Dr Khir Toyo dan anak buahnya digantung Dewan di Selangor. Bukannya hendak menjadikan Dewan yang mulia sebagai tempat bertukar-tukar pendapat untuk kebaikan rakyat tetapi dijelmakan sebagai tempat usir mengusir. Macam si Kudung dapat cicin.

Begitu juga Kisah Babi di Kedah tidak habis-habis. Isu sekecil itu pun jadi porak-peranda habis seluruh rakyat Kedah.

Di Pulau Pinang, bukan setakat Industri Buah Pala tidak berkembang, malah Kg Buah Pala pun dah tergadai. Itulah kehebatan yang di uruskan PR.

Setakat ini apa yang kita lihat bukanlah satu krisis. Ia Cuma satu isu. Pengurusan satu-satu isu yang kecil kalau tidak tepat tindakan dan pengurusannya akan menjadi krisis yang merugikan.

Demikian juga kalau isu yang melibatkan personaliti dari PR, akan di sudahi dengan demontrasi. Kalau katak belaan PR mati kerana perbuatan sendiri pun rakyat dikerah berdemontrasi. Tidak setakat berdemonstrasi malah melaung-laungkan macam orang histeria untuk menubuhkan Suruhanjaya DiRaja. Ini adalah cerminan kebobrokan minda pemimpin PR.

Lain kali pilihlah calon-calon dan pemimpin yang mempunyai ‘the right talent’ atau bakat yang betul kerana mereka mementingkan ‘good heads and good legs’ –yakni otak yang baik dan tindakan yang betul. Pemimpin-pemimpin yang mempunyai bakat yang baik lazimnya mempunyai matlamat yang jelas.

Di Negara kita ada 4 kepercayaan agama yang dominan; iaitu Addinul Islam, Kristian, Buddha dan Hindu. Kesemuanya menentang kezaliman. Jadi perlu apa kepada demonstrasi?

Mereka harus berpegang bahawa dalam kesusahan itu ada penyelesaian-‘when there is a problem, there is always a solution’. Masyarakat memerlukan pemimpin yang mahir dalam ‘problem-solving, decision-making dan art of negotiation’, bukan berdemonstrasi memanjang.

Kalau Shintaro Ishihara berani menulis , The Japan that Can Say No, kita juga ingin membuktikan bahawa kita adalah bangsa besar dan bangsa gagah yang tidak tunduk kepada unsur-unsur yang merugikan kita, melalui seruan kepada rakyat Malaysia dengan slogan “The Malaysian that will Never say Yes Sebarangan”.

Friday, 12 June 2009

Pyshe Melayu Tidak Layu


Pyshe Melayu Melalui Kerajaan Perpaduan.

Bangsa lain boleh membuat berbagai-bagai andaian dan berteori tentang Bangsa Melayu. Melayu tetap Melayu. Tidak kira apa orang lain kata.

1. Frank Swettenham menulis tentang orang Melayu:

“Bagi sesiapa yang hendak mengenali Melayu, dia mesti duduk bermaustatin di negerinya,bertutur dalam bahasanya,menghormati agamanya,menunjukkan minat atas segala kegemarannya,memahami kecurigaannya, berseloka dengannya, bersyafakah keatasnya semasa dia susah dan berkongsi dengannya segala kesukaan dan risikonya. Dengan cara itu sahajalah kamu berkemungkinan mendapat kepercayaannya.Setelah memperolehi keyakinannya barulah kamu akan dapat menyelami jiwa dalamannya dan pengetahuan seperti ini akan memberi menafaat kepada sesiapa juga yang berpeluang menggunakannya.”

2. R.O. Winstedt berbahasa tentang Bangsa Melayu:

“Melayu adalah haiwan yang paling malas dimuka dunia ini!”

3. Pandangan Clifford tentang bangsa melayu;

“Bukankah mereka itu orang-orang yang baik?Cuba kamu lihat! Bolehkah kamu dapat pekerja-pekerja kulit putih bertugas semacam itu?Cara mereka bekerja macamlah mereka benar-benar menikmatinya. Dan tidak seorang pun diantara mereka diberi upah selain daripada makanan(percuma)..Sungguh bagus betul mereka ini…aku bila-bila masa pun akan memilih mereka.daripada orang lain.

Begitu juga orang Cina dan India yang bermaustatin disini gagal memahami Bangsa Melayu.

Setiap kali orang melayu bertelingkah antara satu sama lain, mereka tidak boleh dipandang sudah berpecah-belah. Jangan laga-lagakan mereka. Jangan cuba mengambil kesempatan untuk menguasai mereka. Orang Melayu boleh bersatu teguh apabila menghadapi ancaman luar.

Orang Melayu mampu mengubah lanskap politik huru-haru menjadi bara permuafakatan yang padu dan jitu kalau ia terancam. "Carik-carik bulu ayam akhirnya bercantum juga, Air ditetak tak akan putus, Sebusuk-busuk daging dibasuh dimakan juga" sentiasa menjadi realiti. Dalam keadaan tertentu juga melayu selalu berkata,"hati gajah sama dilapah, hati kuman sama dicecah"

Clifford gagal memahami secara lebih dalam lagi dalam aspek ‘kesetiaan’ Bangsa Melayu kepada 'pendatang'. Melayu akan bermuafakat dengan sesiapa sahaja selagi ia tidak menceroboh ‘dignity’ dan ketuanan bangsanya.

Contoh jelas ialah dalam peristiwa memburu dan menangkap Mat Kilau oleh Clifford. Bala askarnya yang terdiri daripada bangsa melayu tidak memberi kerjasama sehinggakan Mat kilau terlepas daripada ditawan oleh kolonial. Mat Kilau yang dilabelkan sebagai penderhaka oleh kolonial, akhirnya dinobat sebagai Pahlawan Melayu oleh bangsanya.

Begitu juga dalam era pasca Merdeka. Melayu berpecah belah dengan berbagai parti, khusunya UMNO dengan PAS. Mempunyai fahaman politik yang berbeza, tetapi sama-sama bertunjangkan Islam. Cuma pendekatan sahaja berbeza. Akhirnya selepas peristiwa malang 13 May mereka kembali bersatu dibawah panji Barisan Nasional untuk menstabilkan Negara mereka.

Demikian juga zaman pra merdeka. Mereka mampu bersatu dalam setiap gerakan menyeru dan berslogan untuk kemerdekaan.Semangat ini masih menebal dikalangan Melayu. Perpecahan politik orang melayu lazimnya tidak kekal. Kemana sahaja melayu memandang, pandangan mereka diikat dengan kalimah syahadah.

Sejarah adalah tanda aras dan kayu ukur yang baik bagi dijadikan teladan dan sempadan Mereka yang tidak belajar dari sejarah akan mengulangi segala kesilapan yang telah dibuat.

Pyshe Melayu akan pulih apabila didorong dengan situasi keterpaksaan.

Saya bukan perkauman. Tetapi saya masih tidak jelas lagi keikhlasan bangsa lain terhadap Bangsa Melayu. Setakat ini melayu telah pun menunjukkan setia kawan dengan bangsa lain dalam perspektif politik. Khususnya dalam pilihanraya. Kawasan-kawasan yang ditandingi oleh MIC keseluruhannya mempunyai latar belakang majority pengundi melayu. Di Negara ini tidak ada satu pun kawasan yang majoriti penduduk India. Calon bukan melayu boleh menang dan mewakili melayu dalam dewan. Di setengah kawasan yang ditandingi MCA juga ada tempat majority orang melayu. MCA juga boleh menang.

Setakat ini tidak ada satu pun kawasan majoriti orang cina tetapi orang melayu yang bertanding dan menang. Usahkan melayu,kalau cina daripada MCA atau Gerakan pun boleh tewas sebab MCA dan Gerakan bersekutu dalam BN yang mana parti melayu adalah tulang belakang BN. DAP sendiri pun tidak pernah memberi laluan kepada calon melayu bertanding dikubu kuat mereka yang majority pengundinya Cina. Dimana dasar kesaksamaan dalam DAP? Buktikanlah.

Melayu dinegara ini sudah memerhati keadaan orang melayu di Negara Temasik. Apa sudah jadi? Adakah semua melayu di Temasik itu bodoh dan bebal belaka. Begitu juga halnya Melayu di Selatan Benua Siam. Dalam masjid pun disembelih.Inilah yang menghantui Melayu di Tanah Melayu.

Malaysia masih memerlukan 100 tahun lagi untuk mewujudkan 1Malaysia berkonsepkan Malaysian Malaysia. Buktikan dahulu kesejagatan.

Kerajaan Perpaduan akan menjadi katalis dalam proses menyegerakan 1Malaysia yang berkonsepkan Malaysian Malaysia. Semua bangsa kena berhemah dan berhikmah dalam setiap pendekatan politik.

Tuesday, 2 June 2009

BN dan PR semuanya Haprak



Perlukah kita menyangi sebuah mahligai, walaupun ia dibina dengan penat lelah melalui keringat, darah dan air mata andai ianya penuh sesak dengan pelacur-pelacur dan pengunjung-pengunjung yang bertandan untuk melacur.

Begitu juga dengan UMNO. Walaupun ia dewasa dengan perit-jerih para pemimpin dahulu tetapi telah dilacurkan hingga dijangkiti AIDS dan HIV. Apa ditunggu lagi? Matikan. Tamatkan penderitaan dan keazaban yang ditanggung. Itulah cara untuk menghentikan sengsara UMNO. Semoga para tetamu yang penuh sesak itu terpinggir dan mati beragam.

Saya berpendapat, menyokong UMNO seolah-olah menyokong segala perbuatan mungkar yang terdapat dalam UMNO. Malah menyumbang kepada penderitaannya berlanjutan.

Apakah orang-orang Melayu yang majoritinya bukan ahli UMNO ingin dilabelkan sebagai pelacur juga? Atau kaum yang mengidap AIDS dan HIV. Tentu sekali kita tidak mahu begitu. Kalau sudah tidak mahu ,jom!, gerakkan sesuatu kearah dimensi baru dalam gerakan orang melayu sekarang. Melayu yang hidup tanpa alternatif adalah melayu yang mati sebelum mati.


Anak ,cucu dan cicit orang melayu tidak perlu mewarisi tempat yang kotor itu. Anak muda Melayu generasi ini harus bangkit sebagaimana kebangkitan anak muda zaman penjajah dahulu. Bulatkan tekad. Bersatu ujudkan landasan baru. Jelmakan imej Melayu yang merdeka mindanya. Semangat yang dizahirkan melalui kesedaran serta keinsafan yang mendalam akan lebih bermakna daripada hidup bagaikan lembu kerikil, hidung ditindik, punggung dibantai. Kalau matipun ada harga diri.

UMNO hanya layak diletakkan dalam galeri sejarah sahaja. Liku-liku hayatnya dijadikan pedoman dan sempadan. Agar Melayu tidak sesat lagi. Parti-parti dalam BN dan juga dalam PR sudah ketinggalan zaman. Mereka sudah hilang punca dan erti perjuangan. Asyik bertelagah tanpa batasan. Menghabis wang Negara dengan berbagai kerenah konfrontasi politik antara mereka.

Apa yang hendak diharapkan dari BN? Parti sekecil PPP tidak habis-habis dengan isu 2 sidang yang menghasilkan 2 Presiden. Gerakan dengan usul untuk membawa balik Komunis Chin Peng. MIC sudah lama mewujudkan system ‘diktator’. MCA dengan pergeseran dan persengketaan Presiden dan Timbalannya bagaikan puak-puak ‘Ghee Hin dan Hai San’. Mahukah kita berada dalam bahtera yang kucar-kacir? Orang yang ada sijil gila pun rasanya tidak sanggup, apatah lagi kita yang waras ini.

Dalam Pakatan Rakyat pun sama. Dua kali Lima. PAS dengan impian Negara Islam. Berpecah pula diantara gulungan Ulama dan sekular. Dalam ulamak dan sekular ada pula bani ‘Erdogan”. Kekalutan ini sebenarnya adalah tanda huru-haranya parti Islam itu. Sementara Parti Keadilan Rakyat pula dipimpin oleh jaguh pidato yang ‘moralnya’ disangsikan. Tidak ada arah. Destininya ialah dendam. Sanggup diperkudakan asal dendam berbalas. Apa kurangnya DAP- parti cauvanis dan perkauman. Teras perjuangannya ialah akan berjuang mati-matian melawan PAS sekirannya dapat memerintah. Waktu itu jika berlaku pertembungan dengan PAS Anwar tentunya akan mati tersepit macam cicak kubing. Hasilnya ‘buang masa’ sahaja.

Wahai Melayu di Tanah Melayu! Sebelum dipijak, bangkitlah dengan cara baru untuk sama-sama kita menongkah gelombang jadi bangsa yang terbilang.